. .

SISTEM INFORMASI - DEFINISI DAN PENDEKATAN METODOLOGI SISTEM INFORMASI

Posted by CHRISTIANTO D,WIBOWO | D3MI-2016 STMIK BUMI GORA On Rabu, Oktober 26, 2016 No comments

Definisi Sistem Informasi.
Sistem ialah interaksi dari elemen-elemen yang saling berkaitan bekerja sama untuk mencapai tujuan. Elemen-elemen tersebut ialah elemen sistem konvensional (data, manusia dan prosedur) dan elemen sistem modern (data, manusia, prosedur, hardware dan software).
Sebuah sistem menerima masukan, mem prosesnya, dan kemudian menghasilkan suatu keluaran. Sistem tersebut mampu bekerja karena komponen-komponen di dalamnya saling berinteraksi untuk menghasilkan keluaran. Dalam melakukan prosesnya, kinerja sistem sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan di sekitarnya.
Informasi ialah hasil pengolahan data yang berguna bagi penerimanya.
Sistem informasi ialah interaksi antara data, manusia dan prosedur (yang didukung oleh hardware dan software) untuk memberikan suatu penyelesaian berupa informasi yang dapat dipakai untuk mengambil suatu tindakan keputusan selanjutnya baik untuk jangka pendek, menengah atau panjang dalam sebuah organisasi. Dengan kata lain, sistem informasi juga adalah suatu kumpulan dari komponen-komponen yang saling berinteraksi untuk mengelola informasi pada suatu organisasi untuk mendukung kegiatan bisnis organisasi.
Pada awalnya sistem informasi tidak harus dikaitkan dengan teknologi informasi, namun seiring perkembangan jaman, saat ini suatu sistem informasi tidak dapat lepas dari penggunaan teknologi informasi.
  • Penggunaan teknologi informasi pada suatu sistem informasi mulai berkembang sekitar tahun 1960an. Pada periode tersebut, sistem informasi yang digunakan masih sangat terbatas. Hal ini disebabkan teknologi perangkat keras maupun perangkat lunak masih sangat jauh jika dibandingkan dengan kondisi sekarang. Tujuan utama sistem informasi pada saat itu adalah untuk melakukan otomatisasi proses bisnis yang berjalan pada organisasi.
  • Pada periode sekitar tahun 1970an, sistem informasi sudah lebih berkembang. Perkembangan sistem informasi saat itu didominasi dari sudut pandang data. Teknologi basis data saat itu berkembang cukup pesat. Jadi, fokus utama sistem informasi saat itu adalah penyimpanan dan pengaksesan data. Pada saat itu sistem informasi biasanya masih digunakan pada suatu bagian organisasi, khususnya bagian keuangan. Oleh karena itu, kita sekarang sering kali melihat pada suatu organisasi, departemen/bagian sistem informasi (kadang juga disebut bagian teknologi informasi) berada di bawah departemen keuangan.
  • Pada periode tahun 1980an, sistem informasi berkembang lebih ke arah CSCW (Computer Support Cooperative Work). CSCW adalah aplikasi yang mendukung kerjasama dalam organisasi, misalnya pemanfaatan email, dokumen editor, dan lain-lain. Pada periode ini, sistem informasi mulai mengarah ke bentuk client server. Selain itu, pada periode ini pemanfaatan sistem informasi sudah mulai bertambah luas. Sistem informasi sudah dimanfaatkan pada bermacam-macam bagian organisasi, misalnya bagian keuangan, sumber daya manusia, pemasaran, dan lain-lain.
  • Pada tahun 1990an, internet berkembang sangat cepat. Perkembangan tersebut juga mendorong perkembangan sistem informasi. Sistem informasi mulai dimanfaatkan teknologi internet maupun teknologi web. Pada saat itu usaha untuk membuat suatu sistem informasi yang terintegrasi untuk seluruh organisasi sudah mulai dilakukan. Perusahaan-perusahaan perangkat lunak besar di dunia juga mulai mengembangkan sistem informasi yang disesuaikan dengan best practice yang ada, misalnya aplikasi ERP (Enterprise Resource Planning), CRM (Customer Relationship Management), SCM (Supply Chain Management), dan lain-lain.
  • Pada tahun 2000an, sistem informasi berkembang semakin pesat. Perkembangan ini didorong dengan semakin berkembangan teknologi internet, dengan kapasitas semakin besar dan harga yang semakin murah. Sudah banyak organisasi yang telah mengintegrasikan sistem informasi mereka dengan sistem informasi organisasi lain untuk mendukung kegiatan organisasi tersebut. Pada masa mendatang, sistem informasi akan semakin berkembang lagi. Perkembangan teknologi dan perubahan dunia usaha yang sangat cepat, mendorong organisasi untuk mengembangkan suatu sistem informasi yang mampu beradaptasi dengan cepat menghadapi perubahan tersebut. Sistem informasi tersebut juga harus dapat diintegrasikan dengan bermacam-macam sistem yang lain agar kinerja organisasi menjadi lebih efisien. 
Konsep Dasar Sistem
Sistem adalah kumpulan dari elemen-elemen yang berinteraksi untuk mencapai suatu tujuan tertentu, memiliki  :
Karakteristik/Sifat Sistem :
  1. Komponen sistem (components)
  2. Batas Sistem (boundary)
  3. Lingkungan Luar Sistem (environments)
  4. Penghubung (interface)
  5. Masukan (input)
  6. Keluaran (output)
  7. Pengolah (process)
  8. Sasaran(objectives)
  9. Tujuan (goal)
Klasifikasi Sistem:
  1. Sistem abstrak dan sistem fisik
  2. Sistem alamiah dan sistem buatan manusia
  3. Sistem tertentu dan sistem tak tentu
  4. Sistem tertutup dan sistem terbuka
Definisi Pengembangan Sistem Informasi

Pengembangan sistem informasi ialah satu set aktivitas, metode, praktik terbaik, siap dikirimkan, dan peralatan terotomasi yang digunakan oleh stakeholder untuk mengembangkan dan memelihara sistem informasi dan perangkat lunak.
Biasanya pengembangan sistem dilakukan apabila sistem yang lama sudah tidak bisa mengimbangi/memadai kebutuhan atau pun perkembangan perusahaan, sehingga terdapat beberapa pendapat tentang definisi pengembangan sistem, antara lain: 
  • Menyusun suatu sistem yang baru untuk menggantikan sistem yang lama secara keseluruhan atau memperbaiki sistem yang telah ada. 
  • Suatu proses pengaplikasian teknologi informasi untuk suatu tujuan tertentu atau menyelesaikan suatu masalah.
  • Memilah suatu masalah yang besar dan kompleks menjadi beberapa bagian kecil yang dapat dikelola.

Pengembangan sistem dapat berarti menyusun suatu sistem yang baru untuk menggantikan sistem yang lama secara keseluruhan/memperbaiki sistem yang telah ada. Dengan telah dikembangkannya sistem yang baru, maka diharapkan akan terjadi peningkatan-peningkatan di sistem yang baru, yaitu meningkatkan:
  • Performance (kinerja),` peningkatan terhadap kinerja sistem yang baru sehingga menjadi lebih efektif. Kinerja dapat diukur dari throughput (jumlah dari pekerjaan yang dapat dilakukan suatu saat tertentu dan response time (rata-rata waktu yang tertunda diantara dua transaksi/pekerjaan ditambah dengan waktu response untuk menanggapi pekerjaan tersebut).
  • Information (informasi), peningkatan terhadap kualitas informasi yang disajikan.
  • Economy (ekonomis), peningkatan terhadap manfaat-manfaat/keuntungan-keuntungan/penurunan-penurunan biaya yang terjadi.
  • Control (pengendalian), peningkatan terhadap pengendalian untuk mendeteksi dan memperbaiki kesalahan-kesalahan serta kecurangan-kecurangan yang dan akan terjadi.
  • Efficiency (efisiensi), peningkatan terhadap efisiensi operasi
  • Services (pelayanan), peningkatan terhadap pelayanan yang diberikan oleh sistem.
Prinsip dan Perlunya Pengembangan Sistem Informasi
Prinsip Pengembangan Sistem Informasi
Beberapa prinsip yang harus digunakan pada saat pengembangan sistem adalah:
Prinsip - 1 : Libatkan para pengguna sistem,
  • Guna menghindari konflik antara pengguna dan pengembang sistem, maka dalam menciptakan solusi dengan teknologi yang menarik harus melibatkan pengguna sistem yang mengetahui masalah-masalah organisasi yang sebenarnya. Hal ini dilakukan karena tujuan akhir dari pengembangan sistem ini adalah mendukung kebutuhan yang diperlukan oleh pihak manajemen. 
Prinsip – 2 : Gunakan pendekatan pemecahan masalah
  • Pendekatan pemecahan masalah yang klasik adalah:
  • Mempelajari dan memahami masalah, konteks dan pengaruhnya.
  • Mendefinisikan persyaratan yang harus dipenuhi oleh semua solusi.
  • Mengidentifikasikan solusi-solusi calon yang memenuhi persyaratan dan memilih solusi terbaik.
  • Merancang dan atau mengimplementasikan solusi terpilih.
  • Mengamati dan mengawasi pengaruh solusi dan memperbaiki solusi tersebut. 
Analis sistem harus mendekati semua proyek dengan menggunakan beberapa variasi pendekatan pemecahan masalah tersebut.
Prinsip – 3 : Bentuklah fase dan aktivitas
  • Fase-fase yang dapat dibentuk dalam pengembangan sistem adalah definisikan lingkup, analisis masalah, analisis persyaratan, desain logis, analisis keputusan, desain fisik dan integrasi, konstruksi dan pengujian serta instalasi dan pengujian.
Prinsip – 4 : Dokumentasikan sepanjang pengembangan
  • Dokumentasi sangat berguna untuk pengembangan sistem berikutnya. Dokumentasi seharusnya dilakukan dari awal pengembangan sistem sampai proses tersebut selesai dilakukan.
Prinsip – 5 : Bentuklah Standar
Untuk mencapai atau memperbaiki integrasi sistem, organisasi beralih kestandar-standar yang berbentuk arsitektur teknologi informasi enterprise. Contoh standarnya adalah:
  • Teknologi database – engine
  • Teknologi perangkat lunak
  • Teknologi antarmuka
Prinsip – 6 : Kelola proses dan proyek
  • Manajemen proses adalah aktivitas terus-menerus yang mendokumentasikan, mengajarkan, mengawasi penggunaan, dan memperbaiki metodologi („proses‟) terpilih organisasi untuk pengembangan sistem. Manajemen proses peduli dengan fase, aktivitas, barang siap dikirim, dan standar kualitas yang seharusnya diterapkan secara konsisten ke semua proyek. 
  • Manajemen proyek adalah proses pelingkupan, perencanaan, penyediaan staf, pengorganisasian, pengarahan, dan pengontrolan sebuah proyek untuk mengembangkan sebuah sistem informasi dengan biaya minimal, dalam keragka waktu yang ditentukan dan dengan kualitas yang dapat diterima.
Prinsip – 7 : Membenarkan sistem informasi sebagai investasi modal 
  • Pengembangan suatu sistem tentu memerlukan modal yang besar sehingga pengembangan sistem juga merupakan sebuah investasi untuk perusahaan itu sendiri. Beberapa hal yang harus diperhatikan terhadap investasi modal adalah semua alternatif yang ada harus diinvestigasi, dan investasi yang terbaik harus bernilai. Hasil yang diperoleh dengan menyeimbangkan biaya seumur hidup pengembangan, perawatan dan pengoperasian sebuah sistem informasi dan keuntungan-keuntungan yang diperoleh dari sistem itu. 
Prinsip – 8 : Janganlah takut untuk membatalkan atau merevisi lingkup
  • Pendekatan creeping commitment dapat dilakukan untuk merevisi lingkup, yaitu strategi tempat kepraktisan dan risiko dievaluasi ulang secara berkesinambungan melalui sebuah proyek. Anggaran dan tenggat waktu proyek disesuaikan. Mendefinisikan bagaimana tiap unit bisnis akan berkontribusi pada rencana enterprise. 
Prinsip – 9 : Bagilah dan taklukkan
  • Dalam analisis sistem, prinsip ini sering disebut factoring, yaitu dengan berulang-ulang membagi masalah yang lebih besar (sistem) kedalam bagian-bagian (subsistem) yang lebih mudah dikelola, menyederhanakan proses pemecahan masalah. 
Prinsip – 10 : Desainlah sistem untuk pertumbuhan dan perubahan
  • Bisnis-bisnis berubah setiap waktu, kebutuhan berubah, prioritas juga berubah. Untuk alasan ini maka metodologi yang baik harus mencakup kenyataan perubahan. Sistem harus didesain untuk mengakomodasi persyaratan-persyaratan pertumbuhan dan perubahan. 
Perlunya Pengembangan Sistem Informasi
Dengan seiringnya perkembangan jaman maka sebuah sistem tentu tidak selamanya dapat digunakan dengan baik. Untuk itu perlu ada perubahan terhadap sistem tersebut baik dengan cara memperbaiki sistem yang lama atau pun jika perlu untuk mengganti sistem yang lama. Ada beberapa hal yang mendasari hal tersebut, antara lain:
Ada permasalahan pada sistem yang lama.
  • Permasalahan yang dimaksud disini seperti adanya ketidakberesan pada sistem yang lama sehingga hasilnya pun tidak sesuai dengan yang diharapkan. Contohnya: terdapat kesalahan-kesalahan baik yang disengaja atau pun tidak yang menyebabkan data pada suatu perusahaan tidak dapat terjamin kebenarannya, adanya kesempatan atau peluang anggota dari sistem tersebut untuk melakukan kecurangan. Permasalahan yang lain juga dapat disebabkan oleh pertumbuhan organisasi tersebut.
Contohnya:
Pada sebuah perusahaan perdagangan yang berkembang yang sebelumnya hanya sebatas dalam kota, kini tumbuh hingga skala nasional bahkan internasional. Pertumbuhan organisasi (perusahaan) memaksa sistem yang dimiliki sebelumnya harus disesuaikan dengan kebutuhan kerja dari perusahaan tersebut, misalnya transaksi yang sebelumnya bersifat konvensional kini lebih modern dengan memanfaatkan internet.
Untuk meraih kesempatan (opportunities).
  • Sebuah sistem harus diperbaiki atau dikembangkan juga disebabkan untuk meraih kesempatan dari suatu organisasi atau perusahaan. Misalnya pada tingkat manajer pada sebuah perusahaan dituntut untuk cepat menghasilkan suatu kebijakan agar perusahaan mendapatkan keuntungan yang lebih banyak, sehingga perusahaan tersebut memanfaatkan Sistem Pendukung Keputusan agar kebijakan yang didapat lebih cepat. 
Adanya instruksi-instruksi (directives).
  • Sistem harus diperbaharui atau dikembangkan juga disebabkan oleh faktor eksternal seperti pemerintah. Adanya kebijakan-kebijakan pemerintah memaksa sebuah perusahaan menggunakan sistem yang tidak bertentangan dengan kebijakan tersebut.
Pengembangan atau pembuatan sebuah sistem tentu tidak memakan biaya yang sedikit, sehingga organisasi harus secara bijak menentukan apakah sistem yang digunakan masih layak untuk dipakai atau sudah harus dikembangkan atau diganti. Indikator-indikator yang menyebabkan sistem yang lama harus diperbaiki, ditingkatkan bahkan diganti keseluruhannya adalah adanya: 
  • keluhan dari pelanggan
  • pengiriman barang yang sering tertunda 
  • pembayaran gaji yang terlambat 
  • laporan yang tidak tepat waktu
  • isi laporan yang (sering) salah
  • tanggung jawab yang tidak jelas
  • waktu kerja yang berlebihan
  • ketidakberesan kas
  • produktivitas tenaga kerja yang rendah
  • banyak pekerja yang menganggur
  • kegiatan yang tumpang tindih
  • tanggapan yang lambat terhadap konsumen
  • kehilangan kesempatan kompetisi pasar
  • kesalahan-kesalahan manual yang tinggi
  • persediaan barang yang terlalu tinggi
  • pemesanan kembali barang yang tidak efisien
  • biaya operasi yang tinggi
  • file-file yang kurang teratur 
  • keluhan dari supplier karena tertundanya pembayaran
  • tumpukan back-order (tertundanya pengiriman karena kurangnya persediaan barang)
  • investasi yang tidak efisien
  • peramalan penjualan dan produksi tidak tepat
  • kapasitas produksi yang menganggur (idle capacities)
  • pekerjaan manajer yang terlalu praktis. 
Pengembangan sistem informasi dilakukan untuk mendukung kegiatan bisnis dalam organisasi, tahapannya terdiri dari inisialisasi, analisis, desain, dan implementasi. Pengembangan sistem informasi dapat berupa pembuatan suatu sistem baru maupun penambahan atau perubahan modul pada sistem yang sudah ada. Secara umum, alur pengembangan suatu sistem informasi mempunyai beberapa tahapan. Tahapan pengembangan sistem informasi sering kali disebut juga sebagai System Development Life Cycle (SDLC).
Dalam pengembangan sistem informasi, terdapat 2 (dua) hal utama yang harus diperhatikan : 
  • Produk. Produk adalah produk yang harus dihasilkan pada setiap tahap pengembangan sistem informasi. Kesalahan dalam pembuatan produk dalam setiap tahap akan menyebabkan kesalahan yang semakin besar pada produk akhir.
  • Proses. Proses adalah proses pengembangan sistem informasi. Proses ini meliputi tahapan pengembangan mulai dari tahap feasibility sampai implementation. Jika proses tersebut tidak dilaksanakan sesuai dengan jadwal maka kemungkinan kegagalan proyek menjadi semakin besar.
Tim Pengembang Sistem Informasi 
Suatu proyek pengembangan sistem informasi biasanya dikembangkan oleh sebuah tim. Tim tersebut biasanya terdiri dari beberapa posisi sebagai berikut: 
  • Project Leader yaitu penanggung jawab utama proyek pengembangan sistem informasi. Seorang project leader harus mampu mengatur waktu dan sumber daya agar sistem informasi dapat diselesaikan sesuai dengan target yang telah ditetapkan. Dalam sebuah proyek pengembangan sistem informasi, seorang project leader sebaiknya tidak merangkap jabatan lain untuk menghindari adanya konflik kepentingan. 
  • System Analyst yaitu orang yang bertugas untuk melakukan analisis terhadap kebutuhan user dan kemudian mendokumentasikan kebutuhan user tersebut dalam suatu dokumen teknis yang mudah dipahami oleh anggota tim pengembangan sistem informasi. Seorang system analyst yang baik sebaiknya mempunyai pengetahuan dibidang sistem informasi dan pengembangan perangkat lunak sehingga dia mampu merepresentasikan kebutuhan user dengan baik dalam suatu dokumen. Selain itu, system analyst juga dituntut untuk mempunyai pengetahuan umum yang luas agar mempermudah dalam memahami kebutuhan user. 
  • System Designer yaitu orang yang bertugas untuk mendesain sistem berdasarkan dokumen kebutuhan user.
  • Programmer yaitu orang yang bertugas untuk mengimplementasikan desain tersebut menjadi kode program. 
  • Software Quality Assurance (SQA) yaitu orang yang bertugas untuk memastikan semua proses pengembangan sistem informasi berjalan dengan baik dan memastikan produk yang dihasilkan sesuai yang diharapkan.

Pendekatan dan Metodologi Pengembangan Sistem
Pendekatan Pengembangan Sistem
Artikel Post Reff : Metodologi-Pengembangan-Sistem terdapat beberapa pendekatan yang digunakan untuk pengembangan sistem dan dapat dilihat dari beberapa sudut pandang, antara lain:
Metodologi yang digunakan: 
  • Pendekatan klasik: pendekatan di dalam pengembangan sistem mengikuti tahapan daur/siklus hidup sistem tanpa dibekali alat-alat dan teknik-teknik yang memadai. Permasalahan yang akan timbul antara lain pengembangan software akan sulit, biaya perawatan dan pemeliharaan mahal, kemungkinan kesalahan sistem besar dan keberhasilan sistem kurang terjamin. 
  • Pendekatan terstruktur: pendekatan di dalam pengembangan sistem mengikuti tahapan daur/siklus hidup sistem dan dibekali alat-alat dan teknik-teknik yang memadai. 
Sasaran yang ingin dicapai: 
  • Pendekatan sepotong: pendekatan di dalam pengembangan sistem yang menekankan pada suatu kegiatan atau aplikasi tertentu saja. Dilihat hanya pada sasaran aplikasi saja. 
  • Pendekatan sistem: pendekatan ini memperhatikan sistem informasi sebagai satu kesatuan yang terintegrasi untuk masing-masing kegiatan atau aplikasinya. 
Cara menentukan kebutuhan dari sistem:
  • Pendekatan bawah-naik (bottom – up), dalam pendekatan ini dilakukan perumusan untuk menangani transaksi dan naik ke level atas dengan merumuskan kebutuhan informasi berdasarkan pada transaksinya.
  • Pendekatan atas-turun(top – down), pendekatan ini mulai mendefinisikan sasaran dan kebijaksanaan organisasi. 
Teknologi yang digunakan: 
  • Pendekatan lompatan jauh (great loop approach), menerapkan perubahan secara menyeluruh dengan serentak menggunakan teknologi canggih.
  • Pendekatan berkembang (evolutionary approach), pendekatan yang menggunakan teknologi canggih hanya untuk aplikasi-aplikasi yang memerlukan saja pada saat itu dan akan terus berkembang dengan mengikuti kebutuhan.

Metodologi adalah kesatuan metode-metode, prosedur-prosedur, konsep pekerjaan, aturan yang digunakan oleh suatu ilmu pengetahuan, seni dan disiplin ilmu lainnya. 
Metode adalah aturan, cara, teknik yang sistematik untuk mengerjakan sesuatu. Metodologi pengembangan sistem adalah metode-metode, prosedur-prosedur yang digunakan untuk melakukan pengembangan sistem informasi.
Terdapat macam-macam representasi metodologi pengembangan sistem, yaitu :
  • Architected Rapid
  • Application Development (Architected RAD)
  • Dynamic Systems Development Methodology (DSDM)
  • Joint Application Development (JAD)
  • Information Engineering (IE)
  • Rapid Application Development (RAD)
  • Rational Unified Process (RUP)
  • Structured Analysis and Design (SAD)
  • eXtreme Programming (XP) 

Dalam pengembangan sistem informasi, penjadwalan proses merupakan hal yang harus diperhatikan dengan serius. Jika sejak awal kita telah gagal dalam membuat jadwal yang baik, maka dapat dipastikan proyek tersebut akan kacau sehingga mengakibatkan molornya waktu proyek dan membengkaknya biaya. Ketika dilihat sekilas, penjadwalan seperti Tabel-1 di bawah terlihat cukup baik. Tetapi jika diperhatikan lebih lanjut, Tabel-1 menunjukkan sebuah penjadwalan yang tidak realistis.
AKTIFITAS
MARET
APRIL
MEI
JUNI
JULI
AGUSTUS
FEASIBILITY






ANALYSIS






DESIGN






DEVELOPMENT






QUALITY ASSURANCE






IMPLEMENTATION






Tabel-1 - - Penjadwalan Tidak Realistis 
Tabel-2 menunjukkan penjadwalan yang lebih realistis.
AKTIFITAS
MARET
APRIL
MEI
JUNI
JULI
AGUSTUS
FEASIBILITY






ANALYSIS






DESIGN






DEVELOPMENT






QUALITY ASSURANCE






IMPLEMENTATION






Tabel-2 - - Penjadwalan Realistis
Berikut ini adalah beberapa penyebab Tabel-1 tidak realistis.
  • Kegiatan feasibility hanya dilakukan pada saat awal proyek dan kegiatan analysis belum dikerjakan sama sekali. Feasibility sebaiknya dilakukan kembali setelah melakukan analysis agar analisis resiko menjadi lebih akurat.
  • Hasil design khususnya desain antarmuka dan desain interaksi sebaiknya diajukan ke user karena tidak mungkin hanya dengan satu kali proses analisis, tanpa memberikan prototype, akan menghasilkan sesuai dengan keinginan user. 
  • Setelah proses quality assurance tidak ada lagi proses development. Hal ini tidak mungkin karena setiap aplikasi pasti terdapat kesalahan-kesalahan yang harus diperbaiki. Dan tujuan kegiatan quality assurance adalah menemukan kesalahan-kesalahan tersebut untuk kemudian diperbaiki sebelum masuk ke tahap implementation.
Demikian artikel post SISTEM INFORMASI - Definisi Dan Pendekatan Metodologi Sistem Informasi yang merupakan salah satu bahan belajar Mata kuliah SISTEM INFORMASI.
Dan terimakasih pada sumber artikel post :
  1. Sistem Informasi - Wikipedia
  2. Sistem Informasi Manajemen - Wikipedia
  3. Pengertian Dan Langkah-langkah Desain Sistem - Zaenal Hakim
  4. Analisis Dan Desain Sistem Informasi - POLITEKNIK TELKOM - Annisa Mahardika

0 komentar:

Posting Komentar