. .

MENGAPA ANDA HARUS MENG-UPGRADE PERSONAL COMPUTER DESKTOP

Posted by CHRISTIANTO D,WIBOWO | D3MI-2016 STMIK BUMI GORA On Jumat, April 21, 2017 No comments

Meremajakan PC lama tak hanya terkait biaya, melainkan juga produktivitas dan peluang usaha. Apa saja yang perlu diperhatikan dalam melakukannya ?
Bagi orang tertentu, mengganti komputer pribadi yang lama mungkin saja bukan perkara mudah. Ada beragam alasan mengapa ia enggan mengganti PC kesayangannya itu.
Mungkin saja ia tidak membutuhkan PC yang canggih, dengan prosesor powerful yang dapat mengolah data dan grafis secara cepat. Karena komputernya hanya digunakan untuk mengetik dokumen atau membuat spreadsheet sederhana. Atau alasan lain yang lebih logis, apalagi kalau bukan masalah ekonomi.
Bagi perusahaan, peremajaan PC juga bukan perkara mudah. Perusahaan yang tergolong kecil dan menengah (UKM) dengan anggaran TI yang ketat, peremajaan PC bisa jadi ada di urutan ke sekian. Sedang perusahaan yang selalu menjalankan aplikasimission critical, dimana downtimeakibat kerusakan perangkat keras sangat dihindarlan, pendekatannya tentu berbeda.
Yang jelas, seperti halnya pengguna pribadi, masih banyak perusahaan yang mempertahankan PC client – baik notebook maupun desktop – yang sudah ada. Alasannya kurang lebih sama dengan para pengguna pribadi: uang terbatas dan sistem yang ada masih cukup memadai untuk tugas sehari-sehari.
Namun, keputusan melakukan atau tidak melakukan peremajaan PC bukan sekedar mempertimbangkan seberapa besar modal yang akan dikeluarkan. Melainkan juga, ongkos yang terkait dengan perpanjangan siklus penggantian PC tersebut, baik hard money maupun opportunity cost.

Dewasa ini, harga PC boleh dibilang cenderung turun. Jika Anda mengincar PC dengan spesifikasi tertentu bulan ini, mungkin enam bulan berikutnya Anda bisa mendapatkan PC dengan spesifikasi jauh lebih baik dengan harga yang sama.
Makanya jangan heran jika “PC-PC masa kini tidak dibuat untuk bisa bertahan lama,” ujar Rob Enderle, dari perusahaan analisis Enderle Group di San Jose, California, AS. 
Para produsen membuat komponen untuk bisa bertahan sepanjang masa garansinya – yang lamanya rata-rata sekitar empat tahun. Masa-masa setelah garansi habis bukanlah masa-masa yang ingin Anda alami, kata Enderle.
“Sebaiknya Anda tidak mempertahankan PC-PC tersebut lebih lama dibandingkan yang dianjurkan produsen. Jika mereka saja tidak bersedia mengambil risiko, sebaiknya Anda juga,” ujarnya. “Ketika produk-produk itu nilainya semakin jatuh, kualitas komponennya pun demikian. Lagipula, rata-rata produsen tidak berminat untuk membuat barang-barang yang tahan selama-lamanya.”
Roscoe Wasko, CIO suatu perusahaan sewa-beli perangkat rumah tangga dan elektronikRent-A-Center, mengakui bahwa ongkos mengganti PC terkadang lebih murah dibanding memeliharanya, apalagi PC-PC tua.

“Bertahun-tahun lalu, kami menggunakan PC-PC kami sampai pol, benar-benar sampai habis masa pakainya. Saat ini, lebih murah mengganti PC daripada memperbaikinya,” ujar Wasko.
Enderlee pun sependapat. “Saat ini, pemeliharaan preventif sama saja dengan mengganti baru,” ujarnya. Ia pun menambahkan, itu berlaku khususnya bagi laptop-laptop tua. Karena, begitu rusak perbaikannya tidak mudah dilakukan segera, apalagi jika penggunanya tengah bepergian.

Enderlee menyarankan bahwa PC desktop sebaiknya diganti setiap tiga atau empat tahun. Sedang, laptop setiap dua atau tiga tahun, ujarnya. “Jangan pernah menempatkan perangkat-perangkat tua ini di posisi yang bersifat mission-critical setelah masa garansinya lewat,” saran Enderlee.

Jika Anda tetap ngotot melakukannya, “sama saja Anda bermain Russian roulette,” kata Enderlee. “Toh, ongkos menyediakan peralatan baru tak sebanding dengan biayan operasinya.”
Para manajer, yang kini mencari cara-cara berhemat dengan memperpanjang siklus penggantian komputer, juga sebaiknya menyadari bahwa tidak ada sesuatu yang bisa diperoleh secara gratis.
“Kami yakin bahwa total cost of ownership (TCO) rata-rata tahunan untuk sebuah PC yang dipertahankan selama empat tahun tidak lebih kecil dibanding yang dipertahankan selama tiga tahun,” tegas wakil presiden perusahaan riset Gartner, Michael Silver.
Menurut Gartner, pembelian perangkat baru hanya 20-30 persen dari total biaya kepemilikan sebuah PC atau notebook. Itu sebabnya, mengapa penundaan pembelian PC baru jarang berdampak nyata terhadap pengurangan TCO. Malah, di sisi lain,support costuntuk perangkat-perangkat tua itu justru semakin melonjak, karena biaya operasinya mencapai 70 sampai 80 persen dari total cost.

“Biaya perangkat keras rata-rata pertahun akan turun, namun peningkatan hilangnya produktivitas akibat downtime dan lainnya akan mengurangi nilai penghematannya,” ujar Silver. “Perbedaan dari kedua hal itu adalah, yang pertama berupa penghematan uang secara nyata, sedang yang terakhir adalah hidden cost,” ujarnya.

“Beberapa pengguna akan merasakan manfaat dari PC-PC yang lebih cepat. Sekalipun kami melihat empat tahun merupakan usia pakai yang wajar bagi sebuah PC desktop, beberapa pengguna mungkin benar-benar membutuhkan perangkat baru setiap tiga tahun atau malah lebih singkat lagi,” ujar Silver menambahkan.

Tak pelak, peremajaan PC merupakan sesuatu yang tak terhindarkan. Cepat atau lambat, semua perusahaan perlu melakukannya. Di satu sisi, biaya yang harus dikeluarkan untuk meremajakan semua PC tidaklah sedikit, khususnya perusahaan yang memiliki ratusan atau ribuan karyawan. Beberapa perusahaan melakukan pendekatan secara bertahap, dengan tidak sekaligus mengganti seluruh PC-nya.

Di kantor pusat Rent-A-Center di Plano, Texas, dimana 300 karyawannya berkantor, siklus peremajaan PC-nya tiga tahun. Peremajaan tidak dilakukan sekaligus, namun secara bertahap. Menurut Wasko, peremajaan dilakukan sekitar sepertiga dari jumlah PC yang ada setiap tahunnya.

Prioritas peremajaan PC juga sangat tergantung pada penggunaannya. Menurut presiden dan CEO ETLC Management, Doug Steen, apa yang terbukti menjadi implementasi lifecycle yang benar “tergantung dari penggunanya. Apakah mereka ‘power user’ atau yang mengerjakan pekerjaan sederhana seperti spreadsheet, e-mail dan lainnya.”

“Di luar itu ada pekerjaan pengembangan software, rekayasa atau high-end consulting, dimana para penggunanya cenderung mengganti perangkatnya dua kali lebih cepat – dan terkadang lima kali lebih cepat – dibandingkan yang bukan power user,” ujarnya.

“Menurut saya, jika Anda memiliki power user yang bisa memanfaatkan teknologi selama satu tahun dan non-power user dua sampai empat tahun lebih lama, peremajaan bisa jauh lebih hemat,” ujar Steen. “Sebaliknya, jika seluruhnya memiliki siklus penggunaan yang sama, maka biaya peremajaan menjadi lebih mahal dibandingkan yang diatur berdasarkan penggunaannya.”
Quantum Corp., sebuah perusahaan penyedia data storage pun melakukan pemilahan dalam melakukan peremajaan PC-nya. “Kami membiarkan PC beroperasi melewati batas garansinya. Namun, kami menghindarinya jika PC tersebut digunakan untuk para insinyur kami.” ujar Scott McIntyre, CIO perusahaan tersebut.

Menurut McIntyre, para insinyur yang tengah mengerjakan proyek-proyek baru yang penting akan mendapatkan PC yang mereka butuhkan. PC-PC yang menjalankan aplikasi yang bersifat mission critical itu dioperasikan selama tiga tahun.

5 Cara Terbaik Mengelola Armada PC Anda
Ada banyak perangkat dan best practise untuk mengoptimalkan ROI dan meminimalkan risiko perusahaan dalam hal pengelolaan “armada” PC. Berikut ini lima rekomendasi yang perlu Anda pertimbangkan:
  1. Sederhanakan dan standarkan infrastruktur PC Anda. Membuat konfigurasi hardware dan software yang lebih sedikit, tetapi lebih stabil merupakan salah satu langkah paling efektif dalam mengurangi biaya dan meningkatkan keamanannya. Banyak perusahaan mendapati bahwa struktur IT services yang lebih tersentralisasi dan terstandarisasi akan membantu perusahaan melakukan penghematan.
  2. Mengelola secara aktif sistem Anda. Berbagai PC dan sistem operasi yang ada sekarang dibuat untuk memungkinkan keterkelolaan dan keamanan yang lebih hemat biaya. Pilihan piranti pengelolaan pihak ketiga untuk pengotomatisasian dan penyerdehanaan seluruh aspek lifecycle management, seperti manajemen aset, migrasi hardware dan software, update software, kontrol konfigurasi dan end-of-life decommissioning sudah banyak tersedia.
  3. Remajaan PC Anda secara reguler dan terjadwal. Peremajaan yang terprediksi memungkinkan Anda membuat anggaran secara akurat dan menggunakan sumberdaya secara efisien. Langkah ini juga menyerdehanakan optimalisasi proses penggelaran PC. Jika Anda memilih untuk tidak melakukan PC lifecycle yang dianjurkan (3 tahun untuk desktop dan 2 tahun untuk notebook), pastikan Anda memahami TCO dalam lingkungan perusahaan Anda.
  4. Singkirkan PC dan sistem operasi yang sudah tua dan berisiko. Dengan secara aktif memensiunkan sistem-sistem yang sudah berumur, dapat membantu mengurangi sumber kerumitan TI dan risiko bagi perusahaan. Langkah ini juga meningkatkan kesiapan infrastruktur PC untuk menggelar aplikasi dan layanan generasi baru.
  5. Periksa risiko jaringan secara berkala. Anda harus menemukan dan memperbaiki kerentanan yang paling serius dari infrastruktur security Anda. Langkah ini perlu pemantauan ancaman security, solusi dan perubahan regulasinya, dan bekerja sama dengan penjamin Anda untuk memahami dampak dari solusi teknologi terhadap biaya dan cakupan asuransinya. Selain itu, pastikan menyertakan security patching, update anti-virus dan host-intrusion detection sebagai bagian integral dari PC management.
Namun, PC lifecycle tidak melulu diatasi dengan penggantian perangkat keras. Aplikasi-aplikasi TI yang sudah dijalankan pun mempengaruhi keputusan peremajaan PC ini. Apa yang dialami PT New Zealand Milk Indonesia mungkin bisa menjadi pertimbangan menarik. Perusahaan, yang merupakan cabang dari produsen susu dunia New Zealand Milk, ini menerapkan solusi infrastruktur akses buatan Citrix untuk mendorong efisiensi operasionalnya. Infrastruktur ini memungkinkan aplikasi-aplikasi TI perusahaan cukup digelar di server pusat, sementara komputer client-nya hanya menggunakan web browser untuk mengakses aplikasi tersebut.

Proses pengolahan data dan komputasi seluruhnya dikerjakan oleh server, sementara data yang dikirimkan komputer client hanya berupa keystroke dan pergerakan mouse saja, sehingga tidak heran bandwidth yang dibutuhkan sangat kecil, berkisar 9–20 kbps. Karenanya, tidak dibutuhkan komputer client berspesifikasi tinggi untuk mengakses aplikasi-aplikasi yang dimiliki perusahaan.
Penerapan infrastruktur akses semacam itu, menurut Andri Yuniarto Setiadi, Information Service Manager PT New Zealand Milk Indonesia, bisa sangat menghemat biaya operasional.

“Kami juga berhasil menghemat 56.000 dolar AS dengan memperpanjang usia dari perangkat keras yang sudah ada,” ujarnya. Menurut Setiadi, perusahaannya sanggup mengurangi biaya tahunan perangkat keras sampai 83 persen, dan bahkan menekan biaya lembur staf Sistem Informasi sampai 75 persen.

Penghematan yang diperoleh dengan memanfaatkan infrastruktur akses ini juga dirasakan oleh Bank Nusantara Parahyangan. Bank swasta nasional yang bermarkas di Bandung ini juga menerapkan infrastruktur akses buatan Citrix. Menurut Tjie Khong Fen, senior assistant VP Bank Nusantara Parahyangan, dengan aplikasi terebut pihaknya bisa menghemat banyak karena tak perlu sering meremajakan PC.

“Penghematan dari hardware refresh cycle-nya bisa mencapai 150.000 dolar AS untuk setiap tiga tahun,” ujarnya.

Selain itu, karena seluruh aplikasinya terpusat di server, peremajaan PC menjadi lebih mudah. Tidak heran, untuk melayani 19 cabangnya yang tersebar di Bandung, Cirebon, Jakarta, Surabaya dan Bali, menurut Khong Fen, pihaknya hanya membutuhkan staf TI tidak lebih dari 10 orang. Dengan kata lain, IT support untuk menggelar perangkat PC baru pun lebih murah.
Menelan pil pahit

Bagi Wasko dan McIntyre, kelihatannya mereka tidak terlalu kesulitan mengambil keputusan untuk meremajakan PC-PCnya. Namun, para CIO lain mungkin perlu berpikir dua tiga kali untuk menggeser PC-PC lamanya. Menurut Enderlee, mereka harus memahami pentingnya meremajakan PC mereka sebelum rusak.

“Anda harus memilih saat yang tepat, dan perangkat keras sekarang semakin murah, sehingga seringkali kerugian operasi akibat perangkat rusak lebih mahal daripada harga perangkat keras yang baru,” ujarnya. “Anda harus membandingkan potensi kerugian pendapatan terhadap potensi kerugian kehilangan peluang usaha.”

Peter Kastner, seorang analis dari Aberdeen Group pernah mengatakan bahwa perusahaannya sendiri tidak sependapat dengan gagasan mengucurkan uang untuk memperbarui PC di tengah-tengah kondisi perekonomian yang sulit. Namun, pada akhirnya, ia menyimpulkan bahwa gangguan terhadap jalannya perusahaan akibat kerusakan perangkat keras lebih tidak bisa ditolerir. “Obatnya memang pahit,” ujarnya, “namun sesuai common sense.”

0 komentar:

Posting Komentar